-Sang Murobbi- Download Trailer & Mp3 ( Coming Soon July 2008)
June 13, 2008 at 1:06 pm (Islamic Corner)
Genre Film Nuansa Religi, Sebuah Asa Sineas Indonesia
June 13, 2008 at 12:57 pm (Islamic Corner)
Beberapa hari lalu, “Audisi Bintang Film Ketika Cinta Bertasbih” digelar rencananya audisi ini akan digelar di sembilan kota untuk mendapatkan lima pemeran tokoh Azzam, Eliana, Furqon, Anna dan Husna, ujar Heru Hendriyarto, produser SinemArt Pictures, Kamis pekan lalu, di dalam jumpa pers di Jakarta.
Hal ini dilakukan setelah ditekennya MOU antara Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) penulis novel deng judul yang sama, dengan pihak produser film, dimana di dalam MOU itu, Kang Abik sendiri-lah yang memilih para aktris dan aktor Film Ketika Cinta Bertasbih. Hal itu, diungkapkannya dalam dalam acara Seminar Pergaulan Islam Manarul Ilmi Expo 2008 hari jumat (29/02) silam.
Menurut Kang Abik, ia tidak ingin kejanggalan antara novel dan film terjadi kembali, seperti dalam film Ayat-Ayat Cinta, dimana Pertemuan Fahri dan Maria itu tidak disengaja… entah kenapa di film terlihat pertemuan yang disengaja.”
Kang Abik menginginkan artis yang didalam film dan diluar film nantinya berjilbab. Jadi harus berjilbab syaratnya. Dia juga harus bisa mengalahkan Rianti Cartwright atau Luna Maya. Bahkan Kang Abik juga mengajukan LDK supaya menyediakan 3 ikhwan dan 3 Akhwat untuk dicasting sebagai pemain Ketika Cinta Bertasbih. Kemungkinan keenam pemaian yang dicasting akan memerankan tokoh sentral Azzam, Anna Althafunnisa, Eliana dan Furqan. Ntar Kang Abik sendiri yang akan mencari pemain-pemainnya dan akan menjamin kualitas dari pemain terpilih tersebut, jelasnya.
Beda dengan Film Ketika Cinta Bertasbih yang masih dalam tahap audisi para pemeran tokoh utama. Sebuah film religi lainnya malah sudah dalam masa tayang, sejak 5 juni lalu, Mengaku Rasul. Mengaku Rasul ini berangkat dari banyaknya ajaran sesat dimana pemimpin ajaran itu mengaku sebagai rasul baru yang diutus untuk melakukan penyucian aqidah penganutnya. Inilah yang terjadi pada Guru Samir (Ray Sahetapi). Lewat padepokannya, Guru Samir memanfaatkan agama untuk meraih harta dan kekuasaan.
Sejak awal asumsi bahwa film ini epigon dari karya sutradara Hanung Bramantyo sudah terpatahkan. Tagline dalam rilisnya saja menyebutkan sebuah film antisipasi dan bekal menghadapi ajaran sesat. Hmmm, jadi intinya tentang ajaran sesat ya.
Dalam film ini juga, diceritakan Guru Samir tengah berdiri di atas mimbar mushalla, berceramah dengan penuh membara di hadapan santri-santrinya. “Kalianlah manusia yang terpilih oleh Allah, untuk menjadi ummatku. Sebagaimana ummat rasul-rasul terdahulu, kalian semua akan masuk surga bersamaku. Alhamdulillah! Sambutlah jalan yang terbuka lebar menuju pintu surga Allah!”
Sementara itu, di luar mushalla warga kampung sekitar datang berbondong-bondong, menggenggam obor dan bahan bakar. Dengan wajah penuh amarah-atas segala kesesatan ajaran Guru Samir- warga membakar mushalla beserta seisinya. Santri-santri histeris, berlarian keluar dengan badan terbakar api. Sedangkan Guru Samir tidak bergerak sedikitpun dari posisinya semula, tetap tegap berdiri saat jilatan api menggeregoti tubuhnya.
Berita kematian Guru Samir beserta pengikutnya menjadi bahan obrolan panas di kalangan warga desa. Namun tak disangka, terjadilah kemukjizatan. Guru Samir tiba-tiba hadir kembali di tengah-tengah warga desa, dan mengklaim dirinya telah dibangkitkan kembali oleh Allah dari kematian. Benarkah Guru Samir adalah seorang rasul yang diberi kemukjizatan oleh Allah?
Film ini terbilang unik, cukup orisinil dari segi ide cerita, serta cerdik memanfaatkan isu aliran sesat yang sedang santer di negara kita. Jalan ceritanya penuh teka-teki dan tanda tanya, sehingga cukup merangsang kita untuk menebak-nebak kelanjutan cerita, serta jawaban terhadap misteri yang muncul. Contohnya adalah kesaktian/ mukjizat Guru Samir yang dapat berada di dua tempat sekaligus, atau tangan yang pulih kembali setelah ditebas pedang.
Sayang, tidak semua teka-teki yang muncul mendapat jawaban yang memuaskan, bahkan beberapa terkesan dipaksakan.
Justru inilah keunikannya. Negeri ini memang tak pernah berhenti dari terpaan peristiwa aneh, namun tetap saja diamini publik. Masih ingat ketika Menteri Agama percaya kepada mimpi tentang harta karun hingga harus merusak situs purbakala beberapa tahun silam? Kini kasus senada kembali terjadi. Seseorang mengaku ilmuwan sanggup membuat air sebagai pengganti bahan bakar bensin. Ah, aya aya wae… Berkaca dari peristiwa macam itulah film ini menjadi relevan.
Satu poin lagi perlu garisbawahi, Aku pikir adegan penyerangan, pembakaran musholla dan seisinya, yang di film tersebut dianggap sebagai “peristiwa heroik”, tidaklah tepat. Bagaimana pun juga, pengikut-pengikut Guru Samir bukanlah setan-setan yang harus dimusnahkan, melainkan korban dari doktrin-doktrin sesat yang Guru Samir ajarkan. Apalagi, peristiwa itu juga dipicu oleh pencabulan yang dilakukan Guru Samir terhadap salah seorang anak gadis warga, tentu hal tersebut murni kesalahan individu, bukan kelompok.
Seharusnya sutradara bisa “memberi contoh” yang lebih arif, dalam menyikapi “aliran sesat” di tengah-tengah ummat Islam. Pun jika sutradara memandang adegan itu bukanlah untuk “memberi contoh” melainkan “menggambarkan realita yang ada”, apa bedanya dengan film ML (Mau Lagi) yang sukses “memvisualisasikan” realita di kalangan remaja?
Kembali kepada “Film Ketika Cinta Bertasbih” walaupun masih dalam proses. Namun semua pihak dalam pembuatan film ini berharap (bermimpi) semua orang yang ingin menghadirkan sebuah film yang baik bukan hanya dari sisi cerita, tetapi juga keteladanan para aktornya.
Menurut pihak “Film Ketika Cinta Bertasbih”, mereka tidak main-main dalam rencana pembuatan film dakwah ini.
Surat untuk Adnan Buyung Nasution
June 12, 2008 at 3:19 pm (Islamic Corner)
Surat untuk Adnan Buyung Nasution
Tags: Adnanbuyung, Ahmadiyah
AHMADIYAH
Surat untuk Adnan Buyung Nasution
Dari:
H Pangadilan Daulay MA MSc
Dosen Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran Jakarta
Mantan Wartawan Editor di Asia Selatan
Alumnus Quaidi Azam University Islamabad
Ketua Jamiah Al-Washliyah DKI Jakarta
Hal yang sangat mengenaskan adalah ketika seseorang merasa benar pada
saat ia berbuat salah. Saya merasa prihatin dengan Abang yang selama ini
menjadi kebanggaan saya karena di belakang nama Abang ada Nasution. Di
samping prihatin juga kasihan karena dalam usia yang tidak tahu kapan
akan berakhir, demikian ngotot membela yang salah. Kalau Abang membela
koruptor, maka Abang berhadapan dengan masyarakat, tetapi ketika Abang
membela aliran sesaat maka tidak hanya berhadapan dengan masyarakat
tetapi juga dengan Allah SWT.
Abang dengan semangat menolak aliran sesat Ahmadiyah yang dikatakan
bertentangan dengan UUD yang menjamin kebebasan beragama. Di sini
masalahnya bukan
kebebasan beragama, tetapi pengacak-acakan agama. Kalau
aliran Qadiani membuat agama baru lalu diakui oleh negara, silakan.
Kemudian Abang mengatakan bahwa pelarangan terhadap aliran sesat
Ahmadiyah, preseden buruk terhadap demokrasi di Indonesia. Demokrasi
hanya menjamin kebebasan seseorang dalam batas-batas tertentu. Karena
seseorang tidak bebas mencuri, tidak bebas memperkosa, tidak bebas
merusak dan juga tidak bebas mengacak-acak agama orang lain.
Saya bertanya kepada Abang, bagaimana pendapat Abang kalau ada orang
masuk ke rumah Abang lalu ia mengacak-acak rumah, apakah itu bagian dari
demokrasi? Dan orang lain membela bahwa hak dia mengacak-acak rumah
Abang.
Untuk Abang ketahui bahwa aliran ini muncul setelah terjadi perang umat
Islam melawan penjajah Inggris di India pada tahun 1857 yang dikenal
dengan ”The Mutiny of Freedom”. Penjajah Inggris kewalahan
menghadapi
perlawanan umat Islam.
Setelah mengkaji kekuatan umat Islam ini maka
penjajah menyimpulkan bahwa kekuatan mereka terdapat dalam tiga hal:
Alquran, sosok Nabi Muhammad SAW, dan jihad. Lalu dibuat skenario untuk
melemahkan kekuatan umat Islam dengan menampilkan seorang orator, ahli
debat seorang ustadz lokal, dialah Mirza Ghulam Ahmad. Karena hidupnya
susah maka dengan mudah ia digiring untuk motor perusakan Islam.
Ada empat tujuan pokok pembentukan aliran ini:
1. Penodaan terhadap Alquran
2. Penistaan terhadap kerasulan Muhammad SAW
3. Pengaburan pemahaman jihad
4. Merusak ukhuwah Islamiyah
Dalam Tablighi Risalah Vol VII, Faruq Press Qadian, Agustus 1922, Mirza
Ghulam Ahmad menyampaikan, ”Seluruh hidup saya dari sejak kecil sampai
hari ini ketika berusia 60 tahun, saya telah menyerahkan diri saya dalam
tugas-tugas untuk menyebarkan dalam pikiran umat Islam bibit-bibit
kepatuhan, prasangka baik, dan simpati
terhadap penjajah Inggris dan
berusaha menyapu habis pemikiran jahat seperti jihad dan lain-lain dalam
pikiran bodoh di antara mereka.”
Dalam buku Qadiani terbitan Departemen Penerangan Pakistan ditulis:
”Dalam kondisi yang sangat penting ini, gerakan sesat Qadiani
dimunculkan di sudut terpencil kota Punjab di bawah perlindungan penuh
penjajah, tuan besarnya. Penyelidikan terakhir membuktikan bahwa gerakan
sesat ini berada di bawah pengawasan penjajah yang skenarionya telah
dipersiapkan dan para dalang dari rencana busuk ini cukup tepat setelah
menemukan Mirza Ghulam AHmad Qadiani, seorang yang jiwanya tidak stabil
yang dinobatkan sebagai ‘nabi palsu’ yang diberi tugas untuk merusak
integritas keagamaan dan ukhuwah Islamiyah.”
Penodaan terhadap ajaran Islam mencakup berbagai aspek dari ajaran pokok
Islam: 1. Alquran. Dalam buku Haqiqatul Wahy, hlm 391, Mirza Ghulam
Ahmad berkata: Firman Tuhan yang
diturunkan kepadaku demikian banyak
sehingga bila dikumpulkan maka tak kurang dari 20 juz. 2. Kenabian.
Dalam Maktobat -i-Ahmadiyah vol V hlm 112, Mirza Ghulam Ahmad berkata:
”Dialah tuhan yang mahabenar yang telah mempercayakan nabinya di
Qadian.” 3. Tanah Suci. Dalam Haqiqatur Roya hlm 46: Qadian adalah ibu
dari seluruh kota. Siapa saja yang menjauhkan dirinya dari kota ini akan
terpotong dan tercabik-cabik. Buah-buahan Makkah dan Madinah sudah
dipetik dan habis dimakan, sedang buah-buahan Qadiani tetap ada dan
segar. 4. Ibadah Haji. Dalam Paigham-i-Sulh, terbit 19 April 1933: Tidak
dikatakan Islam sebelum percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian,
seperti juga tidak dikatakan haji sebelum menghadiri pertemuan tahunan
Qadiani karena untuk sekarang ini tujuan haji bukan lagi di Makkah.
Masih banyak hal-hal pokok dalam ajaran Islam yang dikacau-balaukan.
Karena itu Rabithah Alam Islami menyatakan aliran
ini adalah kafir dan
keluar dari Islam. Pemikir Musim Pakistan, Dr Muhammad Iqbal, menyebut
mereka ”Traitors of Islam/Pengkhianat terhadap Islam.”
Pada 1953, pecah gerakan anti-Ahmadiyah besar-besaran di Punjab sehingga
pemerintah memberlakukan hukum darurat. Dan pada 1974 Majdlis Nasional
Pakistan melahirkan Undang-Undang dan Pasal 260 ayat 3 menyatakan aliran
Qadiani adalah di luar Islam. Majelis Nasional juga mengesahkan
Undang-Undang Hukum Pidana terhadap aliran sesat Qadiani. Pada ayat 298
C disebutkan: Barangsiapa dari golongan Qadiani atau Lahore (yang
menyebut mereka Ahmadiyah atau nama lain) yang secara langsung atau
tidak langsung mengaku sebagai Muslim atau menyebut atau menyatakan
kepercayaannya sebagai Islam atau menyebarkan atau mempropagandakan
kepercayaannya atau meminta orang lain untuk menerima kepercayaannya
baik melalui kata-kata atau pembicaraan atau tulisan atau melalui
gambaran yang
dapat dilihat atau melalui apa pun yang menyakitkan
perasaan keagamaan umat Islam dihukum penjara atau dengan hukuman lain
yang dapat diperpanjang sampai tiga tahun dan dikenakan denda.
Dalam keterangan ini, apakah Abang masih membela kesesatan? Sekali lagi
bahwa ini bukan hak kebebasan beragam, tetapi perusakan terhadap ajaran
Islam, di mana setiap Muslim termasuk Abang wajib menjaganya. Pelarangan
narkoba bertujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari kerusakan. Sedang
pelarangan aliran sesat Ahmadiyah untuk menyelamatkan masyarakat dari
kesesatan.
Semoga Abang diberi hidayah oleh Allah SWT. Amin.
Mana yang bener??
June 10, 2008 at 9:27 am (Islamic Corner)
Ini katanya Mr. Nong di milis-milis. .
Menurut temen-temen gimana?
Untuk menyakinkan tulisan ini, saya perlu memperkenalkan diri dulu, nama Saya adalah Nong Darol Mahmada, saya salah seorang aktivis Jaringan Islam Liberal dan saya aktif di JIL sejak berdirinya JIL.
Dalam kesempatan sekarang izinkan saya memberikan kesaksian kepada kawan-kawan sebangsa dan setanah air melalui milis ini kejadian sebenarnya dibalik kejadian yang terjadi di Monas pada tanggal 1 Juni yang lalu.
Perlu kawan-kawan ketahui bersama bahwa aksi ini merupakan aksi yang telah di skenariokan oleh pihak pemerintah untuk mengalihkan isu BBM yang sedang marak ditengah masyarakat. Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Beryakinan (AKK B hanya dijadikan kedok saja untuk mencegah agar ajaran Ahmadiyah tidak dibubarkan.
Setelah presiden SBY menaikan harga BBM, kalangan kontributor JIL Goenawan Mohammad, Hamid Basyaib, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Nasaruddin Umar melakukan pertemuan secara diam-diam di kediaman SBY di Cikeas, Bogor. Hal ini mereka bisa akses langsung kedalam berkat orang dalam yaitu Andi Malarangeng yang notabene kakak kandung dari Rizal Mallarangeng.
Dalam pertemuan ini membahas isu yang berkembang di tengah masyarakat mengenai aksi demo-demo yang dilakukan adek-adek mahasiswa. Lalu SBY selaku presiden dan kepala pemerintah meminta kalangan JIL mengalihkan isu yang sedang berkembang di masyarakat dengan isu lain. Rizal M, yang merupakan pemuda JIL yang cerdas memberikan usul bagaimana isu kenaikan BBM yang sekarang ini diupayakan diganti dengan isu membubarkan Front Pembela Islam (FPI) dengan mengangkat isu pembubaran ajaran Ahmadiyah. Karena selama ini JIL selalu mendapatkan perlakuan keras dari FPI.
Lalu setelah mendapatkan ‘restu’ dari presiden Goenawan Mohammad, Hamid Basyaib dan Rizal Mallarangeng datang ke markas JIL di Jl. Utan Kayu No. 68 H Utan Kayu. Di Kedai Tempo mereka membahas bagaimana membuat skenario agar anggota FPI bisa melakukan tindakan anarkis dan perusakan yang membuat masyarakat tidak simpati lagi dengan FPI. Lalu setelah melakukan diskusi selama 3 jam, ketiga kontributor JIL itu akhirnya berhasil membuat skenario yang bagus, dengan memanfaatkan momentum kelahiran Pancasila pada tanggal 1 Juni, mereka akan membuat semacam aksi simpatik (damai) dalam kebebasan beragama dan berkeyakinan. Aksi ini dilakukan di Monas, yang mana para peserta yang hadir sudah disetting sedemikian rupa agar anggota FPI turut datang dan membubarkan asyik tersebut. Mereka sangat paham betul, bahwa massa FPI sangat mudah sekali untuk dipancing agar melakukan kekerasan dan pengerusakan.
Setelah membuat skenario tersebut lalu Goenawan Mohammad, menghubungi SBY melalui ponselnya, setelah mendengar penjelasan dari Goenawan Mohammad secara terperinci, akhirnya presiden menyetujui aksi tersebut dan akan mentrasferkan dananya sebesar 10 miliard rupiah untuk melancarkan aksi tersebut.
Malam sebelum kejadian, beberapa pentolan JIL berkumpul di markas JIL, termasuk saya sendiri. Waktu itu yang hadir sangat ramai sekali dan sedang membahas persiapan untuk aksi besok pagi. Dari beberapa kawan-kawan yang diberikan tugas juga sudah selesai menjalankan tugasnya seperti mengundang kalangan pers media cetak dan media elektronik untuk hadir di acara tersebut. Orang-orang Ahmadiyah pun bersedia mengerahkan beberapa massanya untuk menghadiri aksi damai besok. Begitu juga dengan FPI, sudah dikontak melalui SMS membuat isu kalau besok jamaah Ahmadiyah, akan menggelar aksi damai di silang damai.
Saya tidak tahu bagaimana persiapan dari FPI untuk merespon isue tersebut, tetapi nyatanya besok pagi ketika aksi damai itu sedang berlangsung dengan membawa nama AKKBB FPI datang dengan belasan truk dan ratusan anggotanya melakukan pemukulan kepada anggota aksi tersebut. Yang akhirnya terjadi aksi kekerasan tersebut. Hal ini yang diketahui dikalangan anggota FPI adalah aksi tersebut adalah aksi yang dilakukan umat Ahmadiyah sehingga secara kasar dan memaksa membubarkan aksi tersebut.
Dari pemaparan dalam tulisan saya disini harus kawan-kawan milis ketahui bahwa,
1. Bahwa aksi kekerasan yang terjadi di Monas itu merupakan suatu skenario yang dilakukan pemerintah dan pihak JIL untuk mengalihkan isu BBM.
2. Aksi yang terjadi di Monas itu, JIL ingin FPI dibubarkan karena selama ini FPI merupakan yang menjadi sandungan kalau JIL melakukan aksi.
3. Dari jamaah Ahmadiyah dengan aksi ini, diharapkan mendapatkan simpati dari masyarakat Indonesia agar organisasi ini tidak jadi dibubarkan.
4. Kalangan petinggi JIL telah sekian kalinya, mendapatkan keuntungan untuk memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada.
Demikian tulisan ini saya buat dengan sebenarnya, karena hal ini yang membuat saya selalu merasa bersalah dan berdosa telah bersama-sama dengan kawan-kawan JIL melakukan pemutaran balikan fakta. Saya harap kawan-kawan setanah air dan sebangsa mau menyebarkan email kekawan-kawan sekalian. Terima kasih
Hmm.. what do you think about this ??